“Ada, teh?”tanya ibu kepadaku.
“Ada apanya,bu?”balasku.
“Namamu ada tidak di Koran?”lanjut ibu.
“Tidak ada,bu. Mungkin memang belum rejekinya,bu”, jawabku.
Sejak tadi pagi kubiarkan Koran itu tergeletak di atas meja ruang tamu. Lagi-lagi gagal. Ini sudah ke-5 kalinya aku mengikuti seleksi penerimaan pegawai negeri sipil. Dan hasilnya seperti biasa, gagal.
“ Mungkin benar yang dikatakan seorang pegawai departemen itu. Kalau mau gol harus ada orang dalem dan harus bayar uang 70 juta.” terang ibuku.
“Ya, sudahlah bu.mungkin Allah belum memberikan yang terbaik untuk teteh”, balasku. Aku bosan dengar cerita kecurangan yang terjadi di balik setiap seleksi pegawai negeri. Aku berusaha untuk selalu percaya bahwa di negeri ini masih banyak orang yang jujur dan bersih, lagipula orang yang kerja keras pasti lebih berhasil daripada orang yang sering mengambil jalan belakang.
Aku sudah terbiasa dengan yang namannya kegagalan. Selain telah gagal lima kali dalam seleksi penerimaan pegawai negeri,  aku pernah juga gagal dalam memperoleh beasiswa ke Jerman. Bayangkan cita-citaku selama kuliah, hancur lebur karena aku tidak mendapat izin dari dosen-dosenku untuk pergi ke Jerman. Mereka tidak setuju jika aku dapat lolos seleksi. Saat itu ada lima kandidat yang ikut dalam seleksi penerimaan beasiswa itu, dari lima orang itu akan dipilih satu orang yang berhak mendapat beasiswa. Namaku dihapus dari daftar lima orang tersebut. Mereka tidak mau orang yang diunggulkan kalah dariku. Temankulah yang diunggulkan untuk pergi kesana. Belakangan ada kabar burung yang menyebutkan ia dapat pergi kesana, lantaran mendapat rekomendasi khusus dari tentenya, yang juga seorang dosen. Dia dan aku sama-sama memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan. Kami telah memiliki serifikat yang menunjukkan telah lolos dalam ujian bahasa Jerman di tingkat dasar, sertifikat ini dikenal dengan istilah ZD[1]. Hasilnya, aku mendapat predikat sangat baik dan temanku itu mendapat predikat baik. Aku tidak benci dengan temanku itu. Aku hanya tidak suka dengan cara dosenku yang menghalangiku untuk pergi kesana. Aku ingat kata-kata itu.
“Shinta, kamu tahun depan aja ya daftarnya,” pinta seorang dosen padaku saat aku hendak menyerahkan formulir beasiswa. Saat itu alasannya juga tidak dapat kuterima.
“Shinta, awal Juni nanti ada pemilihan mahasiswa berprestasi. Kami telah memilihmu sebagai salah satu kandidatnya. Jadi kalau kamu mendapat kesempatan ke Jerman, maka kamu tidak dapat mengikuti seleksi itu”,  terang seorang dosen padaku. Saat itu, bayangan Brandenburger Tor - sebuah simbol kota Berlin- perlahan menjauh dari benakku. Hilang sudah kesempatan yang telah kutunggu selama kuliah. Habis jatuh tertimpa tangga, tepat sekali peribahasa itu menohokku. Ternyata aku gagal terpilih sebagai mahasiswa berprestasi. Mahasiswa dari jurusan teknik sipillah yang terpilih menyandang predikat itu. Saat pengumuman itu dibacakan, seorang kandidat disebelahku berbisik. “Dia kan cucunya rektor, pantas saja menang”, ujarnya padaku. Lagi-lagi dugaan korupsi, kolusi dan Nepotisme selalu terdengar olehku. Aku tidak memungkiri bahwa di semua sudut birokrasi pemerintahan atau lembaga selalu ada permainan ini. Hmm… masih adakah hati nurani yang bersih dan tulus di negeri ini? Lama-lama kepercayaanku akan negeri ini yang masih dipenuhi orang-orang bersih bisa luntur juga.
Keesokan harinya aku pergi ke pameran buku di sebuah gedung di bilangan Jakarta Selatan. Aku menaiki sebuah patas AC dengan jurusan Rawamangun-Blok M. Kupilih tempat duduk dibarisan depan tepat dibelakang supir, Disebelah kiriku duduk seorang wanita kira-kira berumur 40 tahunan. Ia mengenakan jilbab dengan motif kembang-kembang coklat dan mengenakan blazer coklat tua yang serasi warnanya dengan celana panjangnya. Kiranya ia hendak pergi ke kantor. Saat memasuki jalan Imam Bonjol kemacetan menyapa bus yang aku tumpangi.
“Macet lagi, macet lagi” gerutu ibu disampingku.
“Ada penggalian jalan, bu” sambungku memberi informasi. Tadi pagi aku dengar dari radio, bahwa jalan Imam Bonjol sedang digali karena ada pipa air yang bocor sehingga perlu disambung kembali.  .
“Jalan sudah bagus kok dibongkar lagi. Ada yang rusak?”Tanyanya.
“ Tadi pagi saya dengar di radio, ada pipa air yang bocor, bu” jelasku.
“Pemerintah kita selalu bertindak terlambat, harusnya kebocoran pipa bisa diantisipasi sebelumnya. Kalau terlambat terus bisa-bisa semuanya dirugikan. Lama-lama uang yang diberikan melalui pajak habis untuk perbaiki sana-sini” protesnya.
“Gimana kalau pipa yang bocor gak bisa diperbaiki lagi, lantaran air yang keluar semakin banyak. Wah mungkin lama-lama bisa kayak Lumpur lapindo tuh” lanjutnya memprediksi.
 Aku hanya mangut-mangut mendengar ocehannya. Ibu ini kritis juga melihat keadaan ibukota ini, pikirku dalam hati.
“Mau kemana, mbak? Tanyanya padaku.
“Mau ke Depdiknas, bu.” Jawabku.
“Kerja disana ya, mbak?” tebaknya.
“Enggak, bu. Saya mo ke pameran buku disana.” Balasku.
“Sudah kerja, mbak?” tanyanya penuh selidik.
“Belum, bu.  Saya masih nyari. Ibu mo turun dimana?” tanyaku.
“Saya mo turun di Ratu Plaza.”jawabnya.
Berarti turunnya sama denganku. Aku juga menyebrang di jembatan yang sama, simpulku dalam hati.
“Sudah lulus kuliah,mbak?”Tanyan ya kemudian.
“Sudah, bu.” jawabku.
    & nbsp;   &n bsp;   “Jurusan apa, mbak?” Tanyanya ingin tahu.
    & nbsp;   &n bsp;   “Dulu saya jurusan sastra Jerman.” Jawabku sekenanya. Sejujurnya aku jarang mendapati penumpang yang suka bertanya tentang diriku. Dan aku memang tidak terbiasa memberikan keterangan kepada orang yang baru kukenal, terlebih kepada orang yang kukenal di dalam bus.
    & nbsp;   &n bsp;   “Kalau jurusan bahasa, biasanya mudah dapat kerja. Anak saya yang pertama lulusan sastra Jepang dan sekarang kerja di perusahaan Jepang. Dia sering sekali pergi ke Jepang, dikirim oleh perusahaannya. Malah sekarang lagi nerusin kuliah S2 di Jepang. Terus anak saya yang ketiga lulusan sastra Perancis, sekarang dia kerja di kedutaan Perancis.” Terangnya dengan bangga.
Sebenarnya aku ingin mengatakan kepada beliau bahwa kesempatan yang sering datang kepadaku, hilang dari hadapanku bukan karena kebodohanku, tetapi karena aku dibodohi. Untuk apa aku katakan itu, toh kalau aku katakan tidak akan dapat merubah nasibku yang memang selalu gagal.
“ Saya sebelumnya pernah mencoba mendaftar pekerjaan di beberapa perusahaan swasta dan saya juga sudah pernah mengikuti seleksi penerimaan pegawai negeri tetapi memang Allah belum memberikan kesempatan kepada saya, bu.” Ujarku.
“Setiap kali saya mendapat kesempatan, saya selalu mendengar ada permainan untuk meraih kesempatan tersebut.” Lanjutku.
“Tapi menurut saya, siapa yang berusaha dengan keras pasti akan menuai hasilnya di kemudian hari. Dan siapa yang lolos karena jalan belakang, pasti akhirnya belum tentu berhasil,” mantapku. Wah, mengapa aku jadi begitu terbuka menceritakan pengalamanku dengan ibu tersebut. Entahlah aku begitu percaya dengan kata-katanya. Penampilannya yang meyakinkan membuatku begitu terbuka padanya.
“Ratu… Ratu… Ratu. Ayo yang Ratu siap-siap!” teriak kernet bus.
“Mari, bu” ajakku.
“Iya, mbak” balasnya.
Ibu tersebut berjalan mendahuluiku. Ia berjalan tepat di depanku. Setelah keluar dari bus tersebut, aku berusaha mendahuluinya. Sudah pukul 09.00 aku harus cepat-cepat, karena aku sudah janji dengan ibu akan mengantar beliau ke rumah uwa di Depok pukul 11.00.
“Maaf, bu. Saya duluan. Mari, bu…” kataku.
 “Mmm… mbak sebentar” balasnya menahanku pergi.
“Ada apa, bu? Tanyaku.
“Ini untuk mbak” katanya sambil menyerahkan secarik kertas.
“Mohon dibaca sebentar, “ pintanya.
Akupun membaca kertas tersebut. SELAMAT ANDA TERPLIH MENJADI SALAH SATU KARYAWAN DI PERUSAHAAN KAMI. Begitu tulisan yang tertera di kertas tersebut. Aku melihat sebuah logo perusahaan industri terkemuka di Indonesia sebagai kop dalam kertas tersebut lengkap dengan alamat perusahaannya.
“Apa ini maksudnya, bu? Tanyaku tak mengerti.
“Mbak, mbak terpilih menjadi salah satu karyawan di perusahaan kami. dan sekarang mbak sedang berada dalam acara televisi ”nyari gawe” . Kalau mbak tidak percaya. Coba mbak lihat kamera disana” katanya sambil menunjuk sebuah kamera kecil yang  menyembul keluar dari tas seorang bapak.”
“Lalu kamera sebelah sana mbak” unjuknya kemudian. Aku menoleh ke sebuah kamera kecil yang mirip dengan kacamata yang sedang digenggam seorang bapak berseragam perusahaan tersebut.
Alhamdulillah, aku tak percaya akhirnya kesempatan itu datang. Aku teringat akan harapan adikku, Arif, pada suatu sore sepulang aku dari kampus.
“Teh, sekarang masa ada reality show yang nyari orang untuk bisa kerja di perusahaan besar. Enak, kali ya teh kalo tiba-tiba masuk acara itu.”ucapnya kala itu.
Dan sekarang ternyata aku sedang masuk acara itu. Akupun langsung bersujud mengucap kata syukur yang tiada hentinya kepada Sang Khalik.
Sajada waj hililladzii khalaqahu wa saqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwatihi.



[1] ZD = Zertifikat Deutsch.

0 Comments