Panggil ia Fara

12.28.08 (12:22 am)   [edit]
Satu orang lagi telah pergi. Sosoknya sangat kukagumi. Bila teringat namanya, terlintas di benakku seorang anak yang dewasa, penuh semangat dalam menuntut ilmu. Selalu berusaha untuk mengerjakan tugas sendiri. Mandiri. Kata ini mewakili sikapnya dan cara berpikirnya. Sadar akan kondisi materi keluarga yang sangat sederhana, tak menyurutkan langkahnya untuk tetap meraih ilmu. Sesekali ia bertanya, “ibu, yang ini bagaimana sih caranya?” Tapi tidak sering ia bertanya demikian, semua soal selalu dikerjakan semampunya dahulu, baru ketika ia tidak bisa, ia baru bertanya. Satu hal lagi yang kukagumi darinya adalah sikapnya untuk selalu siap belajar ketika waktu belajar telah tiba. Berbeda dengan anak lain seumurannya yang selalu sulit diarahkan untuk memulai belajar, ia begitu pasti dan yakin untuk terus belajar. Aku ingat akan perkataannya, ketika suatu hari aku memulai belajar dengan mengajak siswa bermain origami (seni melipat kertas dari Jepang), dia berkata, ”bu kapan mulai belajarnya? Nanti kalau ga belajar, ga pintar dong,bu.” Padahal maksudku memberi pelajaran origami, supaya siswa tidak jenuh dengan belajar matematika melulu, namun perlu sesekali diberikan hiburan. Begitu semangatnya ia dalam menuntut ilmu, mengingatkanku untuk segera menyelesaikan tugas akhir. Namun sekarang aku harus merelakan kepergiannya, semoga lingkungan barumu terus mendorongmu untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu. Selamat tinggal, Fara... Mudah-mudahan Allah mempertemukan kita di lain tempat dan kesempatan.

0 Comments

Catatan bagi para pengusaha angkutan umum

12.13.08 (2:22 am)   [edit]
Matahari terasa begitu terik siang ini. Dengan semangat kulambaikan tangan untuk menyetop bis Mayasari 905. Awalnya rada malas juga untuk pergi. Siang-siang ke mangga 2. Panas, ga ada ojjek tapi ga becekkk sih. he he he... Di atas bis, kunikmati setiap laju bis berjalan. Dengan lambat, bak siput berjalan, bis mulai merangkak menuju tempat penjualan elektronik terbesar di Jakarta. Uughh...Frown lamma ammat nih bis, gerutuku dalam hati. Namun setelah bis melewati mal Golden Truly di jalan Gunung Sahari, bis mulai melaju dengan cepat. Malah dengan tak berdosanya sang sopir langsung mengambil arah kanan, masuk jalan Busway. Waaah... sekarang keadaan berubah 180 derajat, bis melaju dengan kencang bak kuda yang berlari di arena balapan. Tapi tunggu, di perempatan pintu besi Pak Polisi segera menjegat bis. Nah lo! Kena deh. Emang enak. Sikat terus, pak. Ini sopir emang bener2 nyebelin tadi di Salemba jalan udah kayak siput, eh sekarang ngebut banget. Pak Polisi meminta STNK sopir yang asli. Cukup lama perbincangan kernet dengan polisi, sampai-sampai ada seorang penumpang, ibu ngomel gak karuan di dalam bis. "Alaaah polisi, sukanya nilang kanan kiri, padahal mo nyari uang." Nah, pandangan yang satu ini, musti kita hindarkan dalam pikiran. Jelas-jelas abang sopir yang salah, ngambil jalan busway. Kok malah polisi disalahin. Saya sebagai pemakai angkutan umum Jakarta sangat mendambakan angkutan umum yang tertib, aman, dan bersih. Satu lagi, sebaiknya para pengusaha angkutan umum tidak mempekerjakan sopir dan kernet yang merokok. Selain untuk menghindari polusi udara, juga jangan mau ambil resiko mempekerjakan orang yang penyakitan gara-gara rokok. Bisa-bisa 3 tahun bekerja, seterusnya masuk RS gara-gara gangguan saluran pernapasan.

0 Comments

Pedulikah kita?

12.03.08 (3:14 am)   [edit]
Setiap kulangkahkan kaki kluar rumah, jutaan mata kan siap menerima senyumanku. Mungkin mereka jauh dari pandangan kita sehari-hari. tapi dengan sedikit senyuman kita, rasanya cukup meringankan beban mereka, walau hanya setitik sunggingan. Sungguh pelajaran hidup membuat mereka dapat bertahan di ibukota yag kejam ini. Mbok Jamu yang setiap pagi menawarkan kunyit asem, mungkin kita abaikan jasanya. kita kadang menutup mata akan pegorbanan beliau untuk menghidupi keluarga. Beliau yang berumur kurang lebih sama dengan ibu kita, namun kesejahteraan hidup belum tentu sama dengan ibu kita. Tukang parkir di depan kantor yang mungkin luput dari pandangan kita. Dengan bermodal "priwitan" dan handuk lusuh, beliau selalu smangat bekerja. Padahal kalo kita taksir tubuhnya yang renta mungkin seumuran dengan kakek kita. Tapi pernahkah kita peduli? Satu lagi Tukang ojek yang langganan yang sangat kita perlukan saat kita bangun kesiangan. Kita tak pernah tahu bagaimana beliau bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan "mengojek." Dengan pertanyaan penuh harap beliau menawarkan jasanya, "ojek neng?" Pedulikah kita dengan mereka? Kelak bila rezekiku cukup, aku akan membuat orang di sekelilingku lebih baik kehidupannya.

0 Comments