Heimlich wie ein Labyrinth
Heimlich, mystisch, und unerklärbar, das beschreibe ich über Dich. Du weisst immer Alles, aber Du lässt mich selbst wissen. Einerseits sagst Du mir nie die Antwort, obwohl Du weisst, dass ich verwirrt bin, aber andererseits hilfst Du mir, wenn ich Dich brauche... Du gibst mir nicht, was ich will, aber Du gibst mir, was ich brauche. Alles ist über Dich für mich wie ein Rätsel. Heimlich wie ein Labyrinth.
NO COMPROMISE! FIGHT FOR THE RIGHTS
. What should I do? Only Allah SWT can solve this problem... Why are you all agree for the injustice things? If the moon can tell the truth, so there will be no more disapponted person... Let Allah SWT response ur action.
Perjanjian Pranikah, perlukah?
Hari minggu malam, tepatnya tanggal 21 Juni 2009, saya menonton kabar sepekan di Tv One . Saat itu tema yang dibahas adalah tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang sering terjadi di Indonesia. Namun sayangnya saya tidak menonton tayangan ini dari awal jam 19.00, saya hanya menonton sesi kedua dengan tema yang masih berkaitan, yaitu tentang perjanjian pranikah. Bagi saya pribadi tema ini selain menarik, juga penting untuk diketahui bagi yang akan menikah. Pembahasan ini menghadirkan seorang artis, juga MC terkenal yaitu Tamara Geraldine sebagai narasumber.
Usut punya usut ternyata Tamara membuat perjanjian pranikah dengan suaminya yang berkewarganegaraan Jerman. Berdasarkan dialog dengan narasumber, saya mencoba mengambil intisarinya, bahwa perjanjian pranikah memiliki manfaat lebih terutama bagi wanita, yakni (1) berperan sebagai rambu-rambu yang jelas tentang pembagian harta. Khusus untuk masalah ini, Tamara menegaskan bahwa KDRT yang marak belakangan terjadi bisa saja disebabkan oleh semakin tingginya tuntutan istri kepada suami dalam segi materi. Untuk itu Tamara menghimbau agar kaum perempuan harus bisa mandiri, berdiri sendiri. Jangan mengandalkan kantong suami. Untuk istri yang memiliki usaha/bisnis sendiri, sebaiknya pembagian harta jelas dibahas dalam perjanjian pranikah. (2) Perjanjian pranikah berfungsi sebagai reminder (pengingat). Seiring bertambahnya usia, dengan adanya perjanjian ini pasangan akan selalu diingatkan, sehingga dapat lebih berhati-hati dalam melangkah.
Melihat dua manfaat di atas, saya jadi bertambah yakin bahwa pernikahan tidak hanya dibekali dengan cinta yang bersifat abstrak, namun perlu juga dibekali dengan hal yang bersifat prosedural dan konkret. Hal ini dilakukan demi keutuhan rumah tangga kelak.
Af(gan)teng.... Ich liebe dich...
mein Lieber Afgan..
Als ich meine Augen aufmache, kommt deine Augen vor. und sofort denke ich an dich. Ich habe dich jeden Tag über alles geliebt, besonders deine Augen vergesse ich nicht. Du bist lustig und auch treu. Du macht mir Lächeln. Du kannst meine Zeit leuchten. Ich werde unsere wunderschönen Erinnerungen in meinem Herzen bewahren.
Idealis Utopis mungkinkah?
Aku teringat akan dongeng masa kecil. Ada Cinderella, putri tidur, aladin lampu ajaib dll. Meski memiliki cerita yang berbeda-beda, tapi semuanya punya satu kesamaan. Dongeng selalu bersifat utopis. Semu. Fiktif. Khayalan belaka. Tapi meski hanya cerita khayalan, entah kenapa aku sangat menyukai cerita-cerita fiktif, apalagi kalau ditambah ada unsur petualangannya. Wow… fantasiku pasti akan menjelajah setiap kata. Seakan diriku larut dalam cerita, dan berusaha menjelma menjadi sosok si pemeran utama.
Setiap cerita memang terlahir fiktif. Sungguh suatu hal yang menyenangkan bila sosok fiktif hadir dalam kehidupan nyata. Dunia menjadi lebih sejahtera bila banyak Robin Hood di setiap negara. Maka tentu tak ada lagi kesenjangan sosial antara si Borjuis dan Proletar. Dan dunia akan indah bila banyak lampu ajaib di seluruh negeri. Dan yang pasti setiap wanita tidak akan bingung lagi memilih pasangan bila ada banyak pria seperti Fahri, sosok pemeran utama film Ayat-ayat Cinta, dalam dunia ini. Namun sayang di dunia ini, kiranya sosok idealis masih utopis. Tapi bukan hal mustahil bahwa di luar sana, di belahan bumi lain mungkin masih ada segelintir manusia seperti Robin Hood, Fahri, dan pejuang-pejuang dongeng lainnya. Sehingga mungkin saja sosok idealis yang kelihatannya utopis menjelma menjadi realis. Siapa yang tahu?
Naffa, Raihan, dan yang lain...
"dua tambah empat kurang tiga tambah lima oke, berapa?" tanyaku pada Naffa. Yang ditanya jawab sambil tersenyum khas, "delapan". Naffa,seorang siswa berumur sekitar lima tahun terlihat imut dan luthu sekali. Aksennya yang terdengar so imut sering membuat aku dan beberapa temannya tertawa. hi hi hi hi... Naffa... Naffa... luv u..
Setiap siswa yang bernama Raihan selalu membuatku terpana, selain karena yang namanya Raihan selalu anak yang cerdas, Raihan yang kutemui sejauh ini good looking, cute gitu loh. Seorang Raihan berumur 6 tahun yang tinggal di Rawa Badung cukup memikat hatiku. Anak ini cerdas kata. Pandai berbicara dan jago ngeles. Suatu hari dia pernah bertanya, "bu, ibu punya istri?" Sungguh aku tak bisa menyembunyikan tawaku. "Ha ha ha... bukannya istri Raihan, tapi suami. Ibukan perempuan, jadi bersuami, bukan beristri." Raihan.. Raihan.. Cinta deh aku sama kau, gumamku dalam hati.
Raihan selanjutnya adalah yang tinggal di Puloasem. Raihan yang satu ini gemar sekali automotif.Setiap jenis sepeda motor mampu ia deskripsikan dengan detail dari mulai racingnya, joknya, dll.
Lain lagi dengan Raihan yang di Pasar Sebun, Pulo Jahe. Menurut hasil psikotest, Raihan yang satu ini, termasuk golongan cowok yang memiliki insting cepat dalam mengenali lawan jenisnya. Alhasil terlihat sekali dalam kesehariannya, Raihan ini cukup genit dengan wanita, apalagi yang cantik. Pernah suatu kali, bu Aay, guru kelas Raihan bertanya, "Raihan, kenapa nilai ulangannya? kok jelek?" Raihan pun menjawab, "ya bu, abis waktu ujian saya ga duduk samping cewek sih.." Nah lo??? Usut punya usut, Raihan ini memang tak bisa konsentrasi kalau yang duduk disampingnya bukan perempuan. Wow... Aku tak habis pikir, kok bisa ya???
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Sudah sepatutnya kita sebagai orang tua mengenal karakter masing2 anak. Selami karakternya, Bimbing dia, dan Syukuri sebab setiap anak adalah anugerah.
Sudoku, ein interessantes Zahlenpuzzle
Warten macht mir langweilig. Um die schlechte Laune zu vertreiben spiele ich meistens dieses Spiel. Sudoku. Es ist ein Zahlenpuzzle. Einige Studien sagt, dass Sudoku die Denkleistung und die logische Fähigkeiten fördern können. Dieses Spiel braucht grosse Geduld und durch dieses Spiel wird man sorgfältig. Die Spieler müssen von allen Seiten sehen, wenn sie Nummer stellen möchten. Auf jeden Falls macht es mir entspannt. Möchtet ihr es probieren? Probiert doch mal!

